Generasi Z yang Cepat Mengundurkan Diri: Suatu Proses Pengambilan Keputusan di Lingkungan Kerja

Kolom293 Views

PEKANBARUPOS.COM – Keluhan dari kalangan bisnis terhadap Generasi Z hampir serupa, mereka dianggap tidak setia, mudah menyerah, dan cepat berhenti. Di bidang manufaktur yang membutuhkan disiplin ketat, jadwal kerja padat, dan daya tahan fisik tinggi, hal ini bahkan dipandang sebagai ancaman besar bagi efisiensi produksi.

Namun, pertanyaan krusial yang jarang muncul adalah: apakah masalahnya benar-benar pada sifat Generasi Z, atau justru pada struktur kerja yang belum mampu menyesuaikan diri?

Data menunjukkan bahwa fenomena pengunduran diri yang cepat tidak bisa dijelaskan secara sederhana. Survei Databoks (2022) mencatat bahwa alasan utama Generasi Z meninggalkan pekerjaan bukan hanya masalah gaji, melainkan campuran dari beban tugas yang berlebihan, suasana kerja yang tidak sehat, jadwal kerja yang tidak teratur, dan budaya kerja yang beracun.

Dengan kata lain, keputusan untuk berhenti sering kali merupakan reaksi logis terhadap kondisi kerja yang dirasa tidak bisa dipertahankan, bukan tanda ketidaksetiaan pribadi. Fenomena pengunduran diri cepat pada Generasi Z sebenarnya adalah proses pengambilan keputusan yang masuk akal dan bertahap, bukan tindakan spontan seperti yang sering diasumsikan.

Keputusan untuk tetap bertahan atau pergi muncul dari penilaian ulang terhadap beban kerja, motivasi, dan kondisi lingkungan kerja, sambil memikirkan dampak jangka pendek dan jangka panjang. Dalam sudut pandang pengambilan keputusan organisasi, pengunduran diri menjadi hasil akhir dari perbandingan biaya dan keuntungan antara tetap di sistem kerja yang tidak berkelanjutan atau mencari pilihan lain yang lebih cocok dengan kemampuan dan nilai pribadi.

Dalam konteks industri manufaktur di daerah seperti Cikarang, yang menjadi pusat pertumbuhan industri nasional dengan lebih dari 1.200 pabrik, masalah ini semakin penting. Tekanan target produksi, sistem kerja bergantian, serta tuntutan fisik yang tinggi membuat karyawan, khususnya Generasi Z, menghadapi situasi kerja yang jauh lebih rumit dibandingkan sektor jasa.

Penelitian menunjukkan bahwa beban kerja yang tidak seimbang secara signifikan menurunkan efisiensi dan memicu stres pada karyawan Gen Z (Manurung et al., 2025). Masalahnya, banyak perusahaan masih menerapkan logika loyalitas lama: kesetiaan diukur dari lamanya bekerja, bukan dari kualitas partisipasi. Dalam pandangan ini, pengunduran diri dianggap sebagai kegagalan moral individu.

Padahal, penelitian terkini dalam kerangka Job Demands–Resources Model menunjukkan bahwa ketika tuntutan kerja tinggi tidak diimbangi dengan sumber daya yang cukup seperti dukungan dari atasan, lingkungan kerja yang sehat, dan kejelasan tugas maka penurunan efisiensi dan keputusan keluar menjadi akibat yang hampir tak terhindarkan (Li et al., 2025).

Bagi Generasi Z, bekerja bukan hanya tentang stabilitas finansial, tetapi juga tentang tujuan, kesehatan jiwa, dan keadilan perusahaan. Motivasi mereka tidak hanya didorong oleh aspek ekonomi, melainkan juga oleh kesempatan berkembang, penghargaan, serta kualitas hubungan kerja (Malt & Nasution, 2025).

Jika elemen-elemen ini tidak ada, maka loyalitas pun hilang dasarnya. Lingkungan kerja memainkan peran yang sama pentingnya. Kajian-kajian terbaru menegaskan bahwa lingkungan kerja yang tidak mendukung baik secara fisik maupun mental berkaitan langsung dengan rendahnya efisiensi dan meningkatnya keinginan keluar pada karyawan Gen Z (Rorensia et al., 2025).

Dalam banyak situasi, yang ditinggalkan oleh Generasi Z bukanlah jabatannya, melainkan budaya kerja yang tidak menyediakan ruang diskusi, masukan, dan rasa aman untuk tumbuh.

Fenomena pengunduran diri cepat ini seharusnya dianggap sebagai peringatan bagi perusahaan, bukan sekadar angka turnover. Jika bonus demografi tidak disertai pembaruan struktur kerja, maka keuntungan jumlah bisa berubah menjadi beban struktural.

Perusahaan, terutama di sektor manufaktur perlu berhenti meminta loyalitas secara satu arah, dan mulai membangunnya melalui kepemimpinan yang adil, pengaturan beban kerja yang masuk akal, serta lingkungan kerja yang manusiawi. Pada akhirnya, pengunduran diri cepat bukan selalu tanda ketidaksetiaan. Dalam banyak kasus, ia adalah bentuk pengambilan keputusan logis untuk mempertahankan martabat profesional dan kesehatan psikologis.

Dunia kerja berubah, dan Generasi Z adalah pantulannya. Pertanyaannya sekarang bukan lagi mengapa mereka cepat pergi, melainkan apakah struktur kerja kita sudah cukup baik untuk membuat mereka tetap tinggal?

Oleh: Sofia Kelani
Mahasiswa Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Paramadina