Di Garis Depan Karhutla, Angga Berjuang Melawan Api dan Rindu Keluarga

Berita41 Views

PEKANBARUPOS.COM – Kobaran api yang mengepungnya bersama rekan-rekan kerja menjadi salah satu pengalaman paling menegangkan bagi Angga Setiawan selama 12 tahun bertugas sebagai pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Namun, ada hal lain yang tak kalah berat baginya: menahan rindu kepada keluarga setiap kali harus meninggalkan rumah selama berminggu-minggu.

Saat itu, Angga melihat rekan-rekannya mulai panik karena terjebak di tengah kobaran api. Ia berusaha menenangkan mereka dan mengarahkan tim untuk bergerak perlahan menjauhi api hingga mencapai sebuah kanal.

Setibanya di tepi kanal, Angga meminta seluruh anggota tim melompat ke air dan berenang bersama. Di tengah upaya menyelamatkan diri, suara speedboat terdengar mendekat. Rekan kerja mereka datang menjemput hingga seluruh anggota tim berhasil selamat.

“Tidak lama kami berenang, kami mendengar suara speedboat. Ternyata rekan kerja saya sudah menjemput kami. Alhamdulillah, kami semua selamat dari kobaran api,” kenangnya.

Angga merupakan anggota Tim Reaksi Cepat (TRC) Regu Pemadam Kebakaran PT Arara Abadi, unit usaha APP Group. Di usianya yang ke-32 tahun, ia telah menghabiskan lebih dari satu dekade untuk menjalankan tugas pemadaman karhutla.

Di balik pekerjaan yang penuh risiko tersebut, Angga adalah seorang suami dan ayah yang harus menghadapi jarak dengan keluarganya. Ia tinggal di Perawang bersama istrinya, Dea Tri Oktari, 26 tahun, dan anak mereka.

Kerinduan paling berat muncul ketika anaknya sakit dan meminta dirinya pulang melalui panggilan video. Sebagai seorang ayah, Angga ingin berada di sisi anaknya. Namun, tanggung jawab pekerjaan membuatnya tidak selalu bisa segera kembali ke rumah.

“Berat, terlebih lagi kalau anak sedang demam dan video call menyuruh saya pulang,” ujarnya.

Dalam situasi seperti itu, Dea menjadi sosok yang menguatkan Angga. Ia berusaha menenangkan anak mereka ketika merindukan ayahnya, sekaligus memberikan dukungan agar Angga dapat menjalankan tugas dengan tenang.

“Untung saja istri saya sangat mendukung. Istri saya mencoba menenangkan anak ketika anak meminta saya pulang,” kata Angga.

Dukungan keluarga membuat Angga mampu melewati masa-masa sulit selama bertugas. Ia juga memiliki alasan kuat untuk tetap menjalani pekerjaannya, yakni mencari nafkah sekaligus membantu melindungi masyarakat dari ancaman karhutla dan kabut asap.

“Ditambah lagi, pekerjaan ini sangat mulia, menyelamatkan orang banyak supaya tidak terjadi kabut asap,” tuturnya.

Pengorbanan waktu bersama keluarga bukan hal baru bagi Angga. Saat usia pernikahannya baru empat bulan, ia dan Dea sudah menyiapkan baju untuk merayakan Lebaran pertama sebagai pasangan suami istri. Mereka bahkan menjahit pakaian khusus untuk menyambut hari raya tersebut.

Namun, dua hari sebelum Lebaran, Angga mendapat tugas pemadaman. Ia pun harus meninggalkan rencana yang telah disiapkan bersama istrinya.

“Saya melewatkan momen yang saya tunggu bersama istri saya,” ungkapnya.

Baju Lebaran itu akhirnya baru bisa mereka kenakan bersama pada Lebaran kelima. Pengalaman tersebut menjadi salah satu kenangan tentang waktu bersama keluarga yang harus dikorbankan demi pekerjaan.

Kini, setiap kali kembali dari penugasan, Angga berusaha memanfaatkan waktu libur untuk berkumpul bersama istri dan anaknya. Ia biasanya mengajak mereka berjalan-jalan untuk mengganti waktu kebersamaan yang hilang selama bertugas.

“Itulah bentuk melepas kerinduan saya,” ujarnya.

Bagi Angga, keberhasilan menjalankan tugas bukan hanya tentang menghadapi api dan menyelamatkan diri dari bahaya. Ada keluarga yang selalu menunggu kepulangannya, menjadi sumber kekuatan sekaligus alasan untuk terus bertahan di tengah risiko pekerjaan.***