Mahasiswa Magister Manajemen Unilak Tawarkan Strategi Percepat Adopsi Kendaraan Listrik Lewat Pendekatan Difusi Inovasi

Opini74 Views

PEKANBARUPOS.COM, PEKANBARU – Upaya mempercepat adopsi kendaraan listrik di Indonesia dinilai tidak cukup hanya mengandalkan perkembangan teknologi dan kebijakan insentif. Pemerataan infrastruktur, edukasi masyarakat, serta kesiapan ekosistem menjadi faktor penting agar transisi menuju energi bersih dapat berlangsung secara inklusif di seluruh daerah.

Pandangan tersebut menjadi fokus kajian Andri Van Anuggrah, S.T., mahasiswa Program Magister Manajemen Sekolah Pascasarjana Universitas Lancang Kuning (Unilak), yang mengangkat persoalan adopsi kendaraan listrik sebagai studi kasus dalam proses pembelajarannya di bawah bimbingan Prof. Dr. Junaidi, S.S., M.Hum.

Kajian tersebut merupakan implementasi ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan Magister Manajemen sekaligus bentuk kontribusi akademik kepada masyarakat.

Melalui publikasi ini, Andri berupaya menerjemahkan teori manajemen ke dalam solusi yang relevan terhadap isu strategis nasional, sehingga hasil pembelajaran di perguruan tinggi dapat memberikan manfaat bagi pengambil kebijakan, pelaku industri, akademisi, maupun masyarakat luas.

Menurut Andri, tingkat adopsi kendaraan listrik saat ini masih didominasi kawasan perkotaan dan koridor-koridor utama. Sementara itu, masyarakat di banyak kabupaten masih menghadapi keterbatasan akses terhadap stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU), minimnya edukasi, serta sedikitnya kesempatan untuk mengenal dan mencoba teknologi tersebut secara langsung.

Ia mengidentifikasi tiga faktor utama yang menyebabkan kondisi tersebut, yakni belum meratanya infrastruktur pengisian daya, rendahnya kesempatan masyarakat untuk mencoba teknologi baru, serta adanya disparitas ekonomi antardaerah.

Akibatnya, masih banyak masyarakat yang mempertanyakan jarak tempuh kendaraan listrik, waktu pengisian baterai, hingga biaya kepemilikannya.

Menurut Andri, kondisi tersebut berpotensi memperlebar kesenjangan adopsi teknologi antara wilayah perkotaan dan daerah, memperlambat pencapaian target transisi energi nasional, serta mengurangi kepercayaan investor maupun penyedia layanan pendukung untuk memperluas investasi di wilayah yang belum berkembang.

Dalam kajiannya, Andri menggunakan Diffusion of Innovations Theory atau Teori Difusi Inovasi yang dikembangkan Everett M. Rogers sebagai pendekatan analisis.

Teori tersebut menjelaskan bahwa suatu inovasi akan lebih cepat diterima apabila masyarakat mampu melihat manfaatnya dibandingkan teknologi sebelumnya, merasa sesuai dengan kebutuhan, mudah digunakan, dapat dicoba sebelum diadopsi, serta hasilnya dapat diamati secara nyata.

Berdasarkan analisis tersebut, Andri menilai tantangan terbesar dalam pengembangan kendaraan listrik di daerah terletak pada rendahnya aspek trialability dan observability, sementara persepsi masyarakat terhadap kompleksitas teknologi masih relatif tinggi.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, ia menawarkan sejumlah strategi, di antaranya memperluas pembangunan SPKLU hingga lintas kabupaten, meningkatkan edukasi publik secara berkelanjutan, serta menghadirkan program uji coba kendaraan listrik di daerah yang belum banyak tersentuh teknologi tersebut.

Namun demikian, Andri menegaskan bahwa Teori Difusi Inovasi tidak dapat dijadikan satu-satunya pendekatan dalam penyusunan kebijakan. Faktor ekonomi daerah dan kemampuan daya beli masyarakat tetap menjadi aspek penting yang perlu dipertimbangkan dalam mempercepat adopsi kendaraan listrik.

Pembimbing kajian, Prof. Dr. Junaidi, S.S., M.Hum., menilai gagasan tersebut telah menunjukkan kemampuan menghubungkan teori manajemen dengan persoalan nyata di masyarakat.

Menurutnya, kajian tersebut masih dapat diperkuat melalui penetapan prioritas wilayah, indikator keberhasilan yang terukur, serta pengembangan model kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat.

Sebagai bagian dari pengayaan perspektif, Andri juga meminta pandangan Dr. Chandra yang memiliki pengalaman dalam bidang manajemen organisasi. Menurut Chandra, keberhasilan adopsi kendaraan listrik tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi, tetapi juga pada kemampuan menghadirkan inovasi yang dekat dengan kebutuhan dan kehidupan masyarakat sehari-hari.

Merujuk pada Miles (2012), Diffusion of Innovations Theory menilai keberhasilan penyebaran inovasi melalui sejumlah indikator, antara lain keunggulan relatif (relative advantage), kesesuaian dengan kebutuhan masyarakat (compatibility), kemudahan penggunaan (simplicity), kesempatan untuk mencoba (trialability), kemudahan mengamati hasil (observability), serta efektivitas saluran komunikasi (communication channels).

Pendekatan tersebut menjelaskan mengapa suatu inovasi dapat berkembang cepat di satu wilayah, tetapi membutuhkan waktu lebih lama untuk diterima di wilayah lainnya.

Melalui publikasi ini, Andri berharap ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan Magister Manajemen tidak hanya menjadi capaian akademik, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Ia meyakini bahwa hasil kajian berbasis ilmu manajemen dapat menjadi masukan bagi para pemangku kepentingan dalam merancang kebijakan yang mendorong pemerataan adopsi kendaraan listrik dan mempercepat tercapainya target transisi energi bersih di Indonesia.

News Feed